Pertandingan selanjutnya : Buku VS Film

Wihuyy,,udah lama gue gak posting,

Gue uda UAS dan alhamdulillah nilai gue gak malu-maluin RT. Rapot juga udah di tangan bro. komentar nyokap biasa ajah, seenggaknya gue gak diomelin.

Jauh sebelum gue ngetik buat posting ini, gue membeli buku biografi “HOEGENG”, bukunya keren lho. Sebagai salah satu pemikiran cihuyy dari sekian banyak perlakuan koruptif di Indonesia, ternyata Indonesia gak parah-parah amat. Karena seenggaknya pernah ada orang yang JUJUR dan hidup gak berorientasi pada duit dan jadi POLRI 1 (KAPOLRI).

Orang jujur itu banyak, tapi yang eksis ternyata masih sedikit. Jadi buat kalian yang jujur, mulai eksis lah dan tunjukan pada yang lain kalau kalian memang jujur dan gak berperilaku korup di Indonesia. Tularkanlah pada generasi selanjutnya.

Banyak film yang nongol di bioskop itu berdasarkan bukunya (novel). Kemudian gue iseng-iseng nguping, ada yang komen kalau film nya gak seseru novelnya, atau “filmnya memunculkan karakter baru.” . hemhh..gue bingung, sebenarnya apa kah yang terjadi??? Apa emang sengaja gituh yah? Mungkin juga sihh, soalnya ribet juga kalo memfilmkan novel yang tebel nya diatas 150 halaman.

“KOMENSALISME”
Kalo menurut gue, antara buku dengan film itu komensalisme, kenapa? Setelah gue melakukan riset kecil-kecilan. Orang yang udah baca sebuah novel tebel dan jadi best seller kemudian mendengar kalo mau ada film yang judulnya sama ditambah embel-embel ‘diangkat dari novel’ sebagian besar akan ngotot untuk dateng dan ngantri di XXI untuk dapetin tiket dan menonton filmnya walaupun komen akhirnya ada yang bilang filmnya beda dengan novelnya. Berarti dengan munculnya buku duluan daripada filmnya membuat produksi film itu mendapat untung. Contohnya film Indonesia Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Ayat-ayat Cinta, Kambing Jantan, Twilight, New Moon.

Kita lihat dari pandangan sebaliknya. Film yang bersinar namanya tanpa novel yang bersinar sebelumnya biasanya orang mengenal murni dari filmnya. Catatan akhir sekolah, sebuah film yang mendobrak dunia per filman dan memberi inspirasi bagi orang banyak dan khususnya generasi muda memberi kesan kuatnya pada masyarakat dengan film nya. Padahal gue liat di Gramed dan toko buku lainnya ada juga novelnya, tapi kalo orang denger “CAS” orang pasti koneknya ke film nya bukan bukunya. Gue gak tau pasti itu yang keluar duluan bukunya atau filmnya tapi yang jelas menurut gue gituh.

Novel / Buku yang udah mem Boom di masyarakat akan mendongkrak keinginan masyarakat akan filmnya. Dengan kata lain, kalau ada produsen Film yang mau memfilmkan sebuah Novel yang udah Boom akan kemungkinan besar mendapat untung besar.

Kalo ada yang gak setuju ya ngga papa, gue kan cuma meluapkan apa gagasan gue (sebenernya sih kesimpulan, soalnya gue kan cuma menyimpulkan dari kejadian yang gue temui)

0 komentar:

Posting Komentar