alasan

hari ini Sabtu 30 Oktober 2010, sebuah Kota oke di Indonesia berubah jadi makin Oke..
Kenapa? semua karena tukang Nasi Uduk. Karena dia, gue jadi merasakan Nikmatnya Nasi Uduk dengan ayam goreng yang garing. KRRRIIIIUUUKKKK....








(ini bukan Kosan Gue, MObil-mobil tertutup abu vulkanik)
Hari ini, saat dini hari, Gunung Merapi dengan iseng meletus (lagi). Teryata gue memiliki karakter yang amat tidak menguntungkan diri gue sendiri, gue amat tidak sensitif. Saat gempa bumi singkat beberapa hari lalu, gue dengan nista gak merasakannya. Saat malam tadi terjadi hujan abu, gue masih setia dengan Ilerr gue yang terus ngucurr.. dan dengan gebleknya gue pun baru sadar jam 5 pagi kalo baru aja ada hujan abu. Setelah sadar akan hal itu, gue keluar dan genteng kosan gue sudah dilapisi abu abu vulkanik yang cukup tebal. gue sadar karena Wilson nelp gue. (Wilson adalah temen gue yang sedang jadi relawan untuk membantu para korban disana) Kalau gue gak ditelp Wilson, mungkin gue akan terbangun dan saat membuka pintu, gue melihat gunungan debu abu atau apalah itu siap memperkosa gue.

Hikmah dari kejadian ini adalah Abu itu masih berbau (agak) menyengat, baunya itu menyerupai bau petasan yang abis dibakar, mirip juga sama bau salep 88, pokonya bau - bau belerang gimana gitu. Dengan bau yang menyengat itu berhasil menutup bau badan gue+bau mulut gue, hari ini gue berencana untuk tidak mandi.

Beberapa atau mungkin banyak dari temen gue rela dan amat ikhlas untuk jadi relawan dalam membantu korban letusan merapi di atas sana, tapi kenapa gue gak menjadi relawan?? BIG QUESTION

Badan gue yang besar amat dibutuhkan untuk membantu mengotong-gotong logistik ataupun menghangatkan kembang desa yang kedinginan karena angin malam yang masih ketakutan. at least gue masih bisa berguna di sana, lalu kenapa gue tidak ikut serta dalam tugas sosial seperti itu? Kenapa? kenapa?

My little answer :

keadaan di sana pasti rame pengungsi, di tempat yang biasa saja, sempit dan semua berdesak-desakan, kondisi udara juga gak banget, tercemar oleh asap dari merapi tersebut.

Para bantuan + relawan pasti dateng, tanpa diminta juga pasti akan banyak yang datang, dari warga sekitar sampai para pejabat dateng untuk melihat dan memberi bantuan.

Dengan semua analisa gue di atas, gue menyimpulkan kalau gue berada di sana, gue cuma akan nyempit-nyempitin lokasi pengungsian. karena sempit itu, warga pengungsi yang duduk deket gue akan merasakan risih. Dengan badan gue yang besar, kebutuhan oksigen gue juga besar, gue akan berebut oksigen yang jumlahnya sedang sedikit di lokasi itu. Jadi intinya, gue takut dengan adanya gue di sana, gue akan membuat pengungsi itu gak nyaman kemudian jadi sesak nafas, udara tercemar belerang, asma akut mendadak, Korban meninggal bertambah.

gue cuma bisa membantu dengan doa. Ini bukanlah sebuah alasan pelarian dari orang seperti gue yang terkesan acuh atau tidak peduli dengan keadaan sekitar. Karena Saat semua orang melakukan hal yang sama dalam bertindak, kita gak harus melakukan hal yang sama seperti kebanyakan dari mereka.

0 komentar:

Posting Komentar