lagu cinta melulu

Suatu hari ada laki – laki muda yang memiliki perasaan pada perempuan muda. Dalam hal ini, gue akan menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi gue akan memerankan si laki – laki muda dan dia akan memerankan perempuan muda itu.

Pagi itu adalah pagi yang membuat gue bahagia, tersenyum dalam, dan terbayang – bayang. Gue melihat perempuan cantik dari kejauhan. Gue merasakan jelas tentang suatu perasaan yang tercipta setelah melihatnya.

Gue duduk di sudut ruang itu, gue berdiam, dan merenung. Kemudian gue bangun dari tempat duduk, lalu gue berdiri di depan cermin. Cermin memang selalu jujur dalam menggambarkan siapa yang bediri di depannya. Gue sadar kalau gue adalah cowo biasa yang baru saja bermimpi di siang hari tanpa tidur terlebih dahulu.

Gue gak mau hidup dalam mimpi yang kosong, lalu gue mencoba untuk mengubur mimpi kosong itu. Hari demi hari gue lewati, ternyata mimpi itu terus mendesak gue, mendesak untuk bangun dari tidur dan lari mengejarnya. Gue ragu, tapi apa salahnya untuk mencoba? Toh gue sudah tau kemungkinan terburuknya seperti apa, terbuang sia – sia.

Gue menunduk, berdoa, dan akhirnya gue mulai melangkahkan kaki untuk mendapatkannya. Hari – hari gue lewati, minggu – minggu juga gue lewati, bahkan bulan – bulan pun gue lewati. Gue berhasil mengenalnya. Gue mengenalnya sebatas nama. Saat itu gue kegirangan setengah gila. Begitu hebatnya efek yang diberikan setelah bisa mengenalnya.

Setelah penantian begitu panjang yang gue alami, sebuah harapan pun muncul, tapi gue tetap ingat pada cermin yang selalu mengingatkan gue. Gue yang begitu biasa sedangkan dia yang begitu luar biasa. Untuk bisa menyatakan kalau gue suka sama dia pun rasanya sangat tidak mungkin karena gue adalah orang yang biasa. Konsekuensi dari orang biasa yang mengejar orang yang luar biasa adalah ditolak sebelum menyatakan.

Perkiraan atau prediksi tentang teori kecil gue tadi ternyata salah besar, gue mengalami kemajuan yang begitu berarti. Setelah dengan keberanian besar, akhirnya Gue bisa mengobrol dengan dia, gue mendapatkan nomor handphonenya setelah meminta. Tiap sms yang terkirim gue ketik dengan hati – hati agar isinya tidak membosankan dan bisa membuat dia tertarik sama gue. Tiap gue mendengar suara balasan sms yang masuk ke handphone gue, gue selalu membiaskan senyuman penuh kegembiaraan.



Keadaan berubah di luar prediksi gue, perubahan ini sangat signifikan dan membuat gue amat gembira dan terus bergembira karena gue diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa lebih mendekatinya. Proses itu pun berjalan terus makin baik.

Suatu hari yang telah disepakati, gue dan dia pergi bersama. Gue semalaman stress memikirkan hari itu, gue harus bagaimana? Berpakaian apa? Tapi pada akhirnya gue memilih untuk menjadi manusia yang senatural mungkin. Dia datang telat karena urusan yang dilaluinya. Gue pun menunggu. Menunggu adalah hal yang membuat kita bosan, tapi hari itu dan hari – hari sebelumnya gue sudah menyadari kalau menunggu adalah kata yang pas bagi gue dalam perjalanan ini. Semua rangkaian ini bisa gue lewati sebagai hasil dari menunggu. Gue pun siap untuk menunggu lama dan harus tanpa ada rasa bosan yang berlebih. Akhirnya hari itu pun berakhir. Sekali lagi gue menunjukkan hasil yang signifikan dalam proses yang di ujungnya terdapat sebuah goal yang mungkin cuma mimpi untuk gue.

Hari – hari gue selanjutnya dihabiskan dengan sms atau telepon. Kegiatan kita masing – masing membuat gue dan dia mulai berjarak dalam komunikasi, tapi rasa itu tetap terjaga dalam hati gue. Perasaaan yang cuma gue bisa merasakannya dan menjaganya.

Dalam perjalanannya, komunikasi gue dengan dia pun tidak terjadi secara lancar. Saat gue sedang memikirkan kata – kata yang ingin gue sampaikan di sms, dan saat itulah dia tiba – tiba hilang. Saat orang lain akan merasakan emosi dalam keadaan seperti itu, gue hanya bisa pasrah dan bersyukut, karena orang yang biasa kaya gue bisa dekat dengannya yang luar biasa.

Kejujuran merupakan hal yang menendang keras dada gue. Ini saatnya untuk mengeluarkannya. Gue harus bertanggung jawab atas semua yang gue rasa, yaitu mengungkapkannya. Dia adalah impian besar gue, cita – cita gue dan gue akan usaha untuk dia, tapi gue pun sudah siap dengan kemungkinan terburuk yaitu ditolak. Seperti anak muda lainnya lakukan yaitu membaca buku Marmut Merah Jambu nya Raditya Dika, kalimat yang pas untuk menggambarkan keadaan gue itu adalah gue sadar kalau mimpi kita ketinggian kadang kita perlu dibangunkan oleh orang lain.

Gue tembak dia, dan gue kembali menunggu, gue sudah terbiasa menunggu atas kepastian yang tidak pasti. Seperti yang sudah gue bilang, gue siap dengan kemungkinan terburuk, dan gue mendapatkan itu pada jawabannya. Gue amat sadar kalau kenyataan itu berbeda dengan apa yang kita mau, tapi seenggaknya gue sudah jujur pada diri gue kalau gue suka sama dia, gue nyaman sama dia, gue sayang sama dia.

Penolakan bukan akhir dari perjalanan ini. Gue terus menjaga, dan sampai saat ini semua itu masih terjaga. Dia tau benar dengan semua perasaan yang gue rasakan, karena gue yang cuma bermodalkan kejujuran sering mengutarakan semua itu untuknya.

Suatu hari hal besar terjadi, dia mengungkapkan secara kurang transparan tentang perasaanya ke gue, tapi karena gue ingin kejelasan yang lebih, akhirnya gue tau kalau dia nyaman sama gue, dia sempet sakit hati saat gue balikan dengan mantan gue. Karena suatu hal tertentu akhirnya gue kembali sendiri, dan tanpa disadari semuanya masih terjaga.

Akhir – akhir ini gue dan dia pun lebih transparan dalam menjabarkan semua ini. Dia tau semua hal tentang perasaan gue ke dia, dan gue tau dia nyaman ke gue. Gue berharap bisa bersama dengannya. Saat sebuah pertanyaan datang yang menanyakan bagaimana nanti kita kedepannya, sekali lagi gue menjawab gue berharap bisa bersama dengannya, tapi gue tidak mendapatkan jawaban darinya.

Komunikasi yang semula sudah kita set ternyata berjalan bergelombang,tidak lurus mulus lancar seperti yang diharap, yang membuat gue kembali duduk di pojok kamar untuk merenungi semua ini. Apakah ini hanyalah sebuah bualan semata? Apakah ini hanyalah sebuah perasaan sementara? Apakah lagi – lagi gue akan mendapatkan kemungkinan terburuk dalam sebuah jawaban dari konsekuensi?

Apakah tiap harapan yang ada dan kesempatan yang diberikan ke gue cuma bisa gue rasakan sementara?

Ya. Perasaan yang gue rasakan ke dia, sepertinya dia tidak merasakannya ke gue. Saat dia mengharap ada laki-laki tangguh untuk mengisi harinya, saat itu pula gue mencoba dan berusaha untuk menjadi laki-laki tangguh itu, tapi apa dia tau gue sedang berusaha? Saat gue sedang membiasakan diri dengan semua hal yang berhubungan dengannya, gue merasa dia tidak melihat gue dan tidak mengetahui.

Gue baru sadar kalau nyaman itu bukan suka atau sayang. Gue sadar kalau sebuah komitmen belum tercipta di antara gue dan dia, jadi dia bisa masa bodo dengan gue karena gue belum terikat sama dia. Dia bisa menunda semua pertanyaan yang gue ajukan ke dia, atau mungkin tidak menjawabnya sama sekali dan dia juga bisa tidak memikirkan gue.

Setelah gue pahami itu, gue melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan ke gue, tapi apa yang terjadi setelahnya? Dia menyebut gue cowo yang perasaanya tidak tangguh untuknya. Dia adalah perempuan yang tidak akan tangguh untuk laki – laki yang hatinya tidak tangguh untuk dia.

Apakah ini? Sebuah permainan kata – kata? Atau permainan perasaan? Dengan semua penjelasan dari awal yang dimulai dari usaha nol besar hingga hari ini, gue masih tidak bisa dipercaya olehnya. Sebenarnya, gue yang tidak bisa dipercaya atau dia yang tidak pernah mempercayai gue?

Apa yang harus gue lakukan selanjutnya? Apa gue harus menyesal melakukan semua perjalanan panjang ini? Tidak. Apa gue harus menutup perasaan ini? Tidak. Apakah gue harus mendengarkan lagu yang nadanya minor dan berelegi patah hati yang efek rumah kaca sebut dengan lagu cinta? Apakah gue harus merasa benci karena seakan dipermainkan?

Benci?


Gue benci jatuh cinta. Gue benci merasa senang bertemu lagi dengan dia, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. gue benci deg-degan menunggu suara dia saat gue telepon. Dan di saat suara dia muncul,gue akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar dia, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Gue benci terkejut melihat SMS dia nongol di inbox dan gue benci kenapa gue harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. gue benci ketika semua detail yang gue ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan kedia menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau gue bisa jadi kehilangan dia. gue benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi,gue tidak bisa menawar, ya?

Gue benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat dia. Apakah pertanyaan dia itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang gue salah artikan dengan penuh percaya diri?

Gue benci harus memikirkan dia sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dangue merasa pasrah, gelisah. Gue benci untuk berpikir gue bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Gue benci ketika logika gue bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan semata, pada akhirnya lo akan tahu, kalian berdua itu berbeda dan tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Gue benci jatuh cinta, terutama kepadadia. Demi Tuhan,gue benci jatuh cinta kepada dia. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini, di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan...gue takut sendirian.


Apakah gue harus merasakan kebencian seperti itu atas semua yang terjadi dalam hidup gue? Tidak. Karena gue sudah cukup jantan untuk menantang diri gue dalam menjelajahi sebuah petualangan ini, sedalam ini, dengan semua konsekuensi yang (harusnya) sudah gue pikirkan dan (harusnya) siap gue dapatkan.

Sebuah kisah kecil ini akan menjadi sebuah FTV favorit jika pemainnya bisa mendalami perannya begitu dalam sesuai karakter yang sudah terdeskripsi dalam story board.

3 komentar:

nfalnov mengatakan...

woow, nyampe sama blog temen sekelas :D

ziz, ini curhatan ya? ehehe

ADA - ADA - AJAH mengatakan...

helo naufal.. ehehe. asik, akhirnya tiba di blogku.

curhatan?? may be yes, may be no, banyak sumber dan inspirasi yang membuat kita bisa menghasilkan sebuah tulisan

Anonim mengatakan...

wah... lucu banget....!!!! Loe mesti bikin buku kaya raditiya dika, elo 2X lipat lebih asik dari pada raditiya dika !!!

Posting Komentar