Kenapa gue LDR?


Status gue adalah sudah tidak lajang lagi, gue bukan sedang menjalang tapi adalah gue telah memiliki pacar yang setia menunggu di sana. Apa maksudnya? Ya. Gue adalah salah satu dari sekian orang yang melakukan LDR. Mungkin lo mikir gue kena penyakit kepanjangan titit kaya yang di buku Raditya Dika. Bukan! Ini bukan Long Dick Reduction. Yah! Gue adalah sebiji dari sekian orang yang berani untuk melakukan Long Distance Relationship. Kenapa gue begitu berani ? Padahal di Film Kambing Jantan bisa diliat kalau kisahnya kambing yang LDR sama Kebo akhirnya berakhir mengenaskan. Padahal mereka udah pacaran dari SMA. Satu lagi, kalo kita merhatiin filmnya, di salah satu scene nya ada yang menampilkan grafik statistik tentang LDR, hasilnya menyebutkan kalau sebagian besar prosentasenya adalah "gagal".


Kondisi gue LDR, LDR di situasi pertama kali. Maksudnya adalah gue pacaran dan langsung LDR. Masih Gak ngerti? Gini, gue mulai kuliah di Jogja bulan agustus 2010. Kemudian gue resmi pacaran tanggal 10 November 2010. Saat itu juga gue berpacaran jarak jauh, Jogja-Bekasi. Jarak yang ditempuh 9-10jam naik kereta kelas bisnis, sekitar 3 jam naik pesawat karena flight 1jam, naik DAMRI 2jam-an, dan belasan jam kalau naik mobil atau bus. Ok! Untuk bertahan lama di perjalanan mungkin gue sudah mulai terbiasa dan kuat, tapi yang belom kuat adalah ongkos. Sekali jalan biaya tiket untuk kereta bisnis 130-150ribuan, pesawat 250ribuan (kalau ga dapet yang promo), 120ribuan naik bus. Belom lagi ditambah ongkos taksi dari terminal/stasiun/terminal DAMRI sampai rumah sekitar 40-45ribu bahkan 50ribu (kalau pake Blue Bird group bisa dibawah 40ribu). Itu sekali jalan..... Bagi sebagian orang mungkin ini terasa biasa-biasa aja, tapi bagi gue enggak. Bokap gue tau kalau biaya hidup di Jogja ga mahal-mahal amat, jadi dia memberi gue biaya secukupnya. Yah, secukupnya. Konsekuensinya adalah gue harus bersabar untuk pulang, yaitu saat gue libur berhari-hari.


Kritis banget di masa-masa awal, itu kesan yang gue dapet untuk LDR, yaitu saat kita harus saling mengenali sifat masing-masing dari jarak beratus-ratus kilometer. Kita suka berantem, yaitu saat gue kurang merespon sms nya lalu dia kesel, atau saat gue juga jadi bingung saat dia membales sms gue dengan singkatnya, sungguh kritis. Betapa stress nya kalau harus berantem di jarak yang jauh, bagaimana harus menjelaskan dengan jelas, bagaimana caranya supaya masalah yang ada bisa diselesaikan dengan cepat dan tepat, apalagi bahasa sms itu tidak ada intonasi nadanya, sehingga menimbulkan multiinterpretasi diantara kita berdua, saat mau telepon ternyata kita sedang di situasi yang kurang memungkinkan yaitu saat dia lagi les/belajar/ngerjain tugas atau sebaliknya, yaitu gue yang lagi ada kegiatan apalagi ditambah dengan pulsa yang harus dikendalikan biayanya . Itulah sedikit dari masa-masa kritis yang miris najis inggris bencis cuihs...



Saat LDR, gue cuma bisa melihat dengan mupeng nya orang-orang yang berboncengan di jalan, pasangan yang makan pagi/siang/malam bersama, pasangan yang pacaran di malem sabtu atau malem minggu bahkan malam Jum'at karena hari jum'at nya mereka tidak ada kuliah, gue juga melihat dengan iri nya kamar kos sebelah yang dikunjungi pacarnya saat si pacar ada waktu. Semua perasaan galau dan dilema itu muncul saat rasa kangen yang ada betapa susahnya untuk disampaikan, kecuali dengan bahasa lisan atau tulisan, tapi sungguh berbeda efeknya kalau kita bisa menyampaikannya di jarak yang begitu dekat, sangat dekat.



Kenapa gue LDR ? Ini pertanyaan yang belum terjawab daritadi.


  1. Mungkin karena yang mau sama gue cuma dia. Pepatah 'mati satu tumbuh seribu' dan ungkapan yang disebut banyak orang tentang 'masih banyak cewek di luar sana' tidak tertuju bagi gue. Gue adalah cowo yang tidak populer sejak sekolah, ini berakibat langsung ke gue, karena gue merasa berat untuk mencari pacar yang sesuai dengan apa yang gue mau. Selain itu, apa yang bisa dibanggakan dari cowo yang tidurnya ngiler dan hobinya masuk angin karena suka ngangkang waktu nonton tv? Alasan ini makin diperkuat saat gue lagi pacaran di mall lalu ada teman gue yang melihat, kemudian di saat tertentu gue lagi OL FB dan temen gue itu lalu chatting sama gue

Temengue: "Ziz, lo kemaren pacaran ya ?"

Gue: "kemaren?? Gak kemaren pas ko, kemaren-kemaren iya. Kenapa? Kok tau?"

Temengue: "iya, gue liat lo kok."

Gue: "wihhh. Di mana? Kok gue ga liat lo ya?"

Temengue: "Yaa disitu lah, soalnya lo lagi jalan gitu, gue juga ngga mungkin kalo manggil, soalnya lo aga jauh. Malu juga lah kalo sampai teriak-teriak"

Gue: "wah sayang banget yah. Padahal di sinetron-sinetron biasa aja kok teriak - teriakan di tempat umum."

Temengue: "Eh. Cewe baru ya? Kapan jadiannya?"

Gue: "belom lama. Kenapa? Naksir? Lo kan cewe. Lo berubah haluan ya?"

Temengue: "ya enggak lah, Eh iya, cewek lo cakep."

Gue: "yoii. Guenya kan juga cakep"

Temengue: "Cewe lo cakep, Lo gak cakep."

Gue: "even keren?"

Temengue: "no, you're not"

Gue: "alhamdulillah deh gue dapet pacar cakep :D gak salah pilih deh gue."

Temengue: "yoi, disyukuri lo.. Lo gak salah pilih kok, tapi gue rasa dia yang salah pilih Ziz. :p "

Gue: ----Off Line----


Sejak saat itu gue mulai berfikir apa adanya dan menerima takdir. Mungkin juga iya. Dengan kondisi gue yang menjadi cowo gak cakep, gak populer, plus gak pinter dari dulu kok bisa dapet pacar yang begitu baiknya, cakepnya, dan shalehahnya. Rasa-rasanya dari sekian banyak cewe di dunia, maksudnya di Bekasi sampai Jogja, yang mau sama gue cuma dia. *sujud syukur


  1. Mungkin Gue penyabar, penyayang, setia, dapat dipercaya. Itulah sifat-sifat dari cowok yang baik. Cowo yang siap diajak untuk berhubungan serius. Cowo yang bukan sembarang cowo, karena cowo yang seperti ini adalah cowo limited ediiton . Dengan modal sifat seperti itu, mungkin gue memang cocok dan bisa untuk ber LDR ria. Namun dibalik itu semua, tenyata gue pun punya kekurangan. Gue gak sabar kalau harus nahan pup satu setengah jam, gue berubah jadi liar saat tiba-tiba dicakar oleh hewan kesayangan gue yang berakhir dengan kematian pada sang hewan. Selain itu, saat temen gue pun mau menitipkan laporan praktikumnya ke gue untuk dikumpulkan, malah terjadi hal yang berbeda.


Gue menawarkan diri "eh sini, laporannya sekalian gue kumpulin aja, gue mau ke lab."


"emhhh, emang lo bisa dipercaya? Takutnya ilang ah, lo kan asal geletak. apa mau lo contek dulu? Kalo mau nyontek, di sini aja gak apa-apa kok." temen gue mulai meragukan kehandalan gue.


"tenang aja, bisa dipercaya kok." gue meyakinkannya sambil mengedipkan mata.


"Ngga jadi deh, lo Homo abis. Lagian kalo percaya sama lo kan sama aja musyrik." Dia melengos pergi.


Gue pun nangis terisak-isak dan langsung lari ke kamar mandi untuk nangis se keras-kerasnya. Nasib laporan praktikum gue pun menggantung. karena gue gagal dapet contekkan, dan teganya dia menyamakan gue dengan jin-jin botol hasil pelarian orang-orang putus asa untuk pesugihan. Jin yang perutnya buncit kaya gentong bolong kaya Gong. (ini gue simpulkan dari tayangan film yang kisahnya adalah persahabatan jin-manusia, atau lukisan-lukisan jin yang digambarkan dari acara pemburu hantu)


  1. Pacar gue kasian sama gue. Setelah melakukan proses pengenalan agak lama lalu gue menembaknya, dan Gue pun ditolak, tapi gue tetep meneguhkan hati, tapi bukan berati gue mengemis cintanya terus-menerus. Mungkin karena itu juga, dia akhirnya sadar dan merasa iba melihat gue. Ada sebiji organisme yang gagal bermutasi jadi mahluk ganteng dan akhirnya frustasi kemudian hampir bunuh diri dengan cara menelan Rexona tapi keburu gagal karena sadar ternyata ngga mampu beli rexona. Dengan keterbatasan pada diri gue, dia jadi sadar kalau ternyata cowok itu (baca: gue) bisa bertahan untuk tetap berusaha mendapatkan hatinya. Betapa pengertiannya pacar gue itu.


Dari sekian banyak kemungkinan yang mungkin terjadi, dan apa pun kondisinya, gue adalah gue dan tetaplah gue. Gue yang pernah ikut karate & taekwondo (tapi nggak pernah lama). Itu modal gue supaya bisa melindungi dia. Walaupun track record gue dalam bela diri agak buruk tapi gue yakin kalau gue tetep bisa melindungi dia.


Saat gue masih imut-imut pake sabuk kuning, sinpai (guru karate) gue menunjuk gue untuk komite lawan anak sabuk biru (4 tingkat di atas gue). Awalnya gue deg-deg-ser, tapi gue tetep pasang muka cool, lawan gue juga rada gendud pendek gitu. Di kepala gue orang yang kaya gitu pasti pergerakannya agak lambat.


Pertandingan pun dimulai, step-step kaki gue pun sudah bisa gue kendalikan. Gue bawa dia agak memutar sambil menunggu celah kosong, mata gue pun melihat ke arah tangan dan kakinya dengan waspada akan serangan yang mungkin dia lakukan. Ternyata gue cukup berani untuk memulai pertempuran ini. Gue melihat ada ruang kosong di arah tengah, gue pun melakukan penyerangan. Gue melancarkan tendangan lurus ke arah perutnya, tapi sial. Ternyata dia bisa menangkis kaki gue dengan tangannya. Gue langsung bersiap deffense. Kuda-kuda gue pun sukses menyeimbangkan badan gue. Biasanya orang akan melakukan serangan balik saat lawannya lagi transisi seperti gue tadi, tapi bodohnya dia tidak mengambil kesempatan itu. Gue langsung melakukan serangan dengan pukulan ke arah atas perut di bawah dada. Pukulan gue masuk. Point pertama untuk gue. Yeaahh !!!


Pertandingan dihentikan, wasit memberitahu kalau pukulan gue masuk, dan 1 point untuk gue. Itu point petama gue. Gue makin pede untuk menghajarnya. Gue anak sabuk kuning bisa menang lawan sabuk biru dengan diliat semua anak yang dateng hari itu. Betapa pecundangnya dia. Hahaha.. Pikiran jahat mulai merasuki tubuh gue.


Pertandingan pun dimulai lagi. gue punya modal, dan gue sudah lebih pede. Ternyata bokap gue pun melihat komite ini. (Komite dilakukan di sesi terakhir sebelum pulang. Biasanya orang tua yang dateng untuk menjemput anaknya pun ikut-ikutan menonton.) Dengan kondisi itu, gue jadi makin semangat karena gue pengen menunjukkan pada bokap kalau anaknya yang masih SD itu pun punya kekuatan terpendam.


Ngga lama kemudian dia menyerang gue, dengan memukul ke arah perut gue berkali-kali. Deffense gue jadi berantakan, dan dia berhasil membuar skor jadi seri. Pukulan itu menyadarkan gue kalau di hadapan gue ini bukan boneka beruang punya ade gue yang biasanya cuma bisa gue aniaya untuk latian karate.


setelah itu kita jadi saling serang, saat dia menyerang gue bisa menahannya, saat gue menyerangnya dia pun bisa menangkis pukulan gue. Pertarungan harga diri terjadi begitu sengit dan makin sengit. Gue yang masih minim pengalaman ini makin kualahan, deffense gue sempat rusak dan dia berhasil menyerang gue dengan sebuah tendangan.


Dia menendang gue dengan cukup kuat. Gue Cuma bisa berekspresi '#$%^*&^!@#@#?!@!##@$@$@??!!!!' Pertandingan langsung dihentikan. Gue langsung menunduk, kepala gue mendanga keatas dengan mata merem dan wajah meringis menahan perih. Tangan gue memegang ke satu tempat. Sinpai pun langsung menyuruh gue tiduran. Dia mengangkat-ngangkat perut gue. Entah kenapa saat itu gue jadi kesel, gue lagi sakit tapi kok dia mengelus-ngelus perut gue sambil menaik-turunkan dengan gembiranya.


Saat itu gue makin kesel sambil nahan sakit. Gue mau teriak ke sinpai supaya dia ngerti KALAU YANG KENA TENDANG ITU.. TITIT GUE !! .. BUKAN PERUT GUE !! Gue ngilu beberapa menit, bokap gue cengar-cengir aja dari pinggir sana. Lawan gue kena pelanggaran dan pertandingan pun selesai, karena wasitnya memimpin dan memandu pertandingan menggunakan bahasa Jepang yang gue gak ngerti apa yang dia omongin. Jadi gue anggep pertandingan itu seri.


Asumsi gue terbukti benar. Orang gendut itu memiliki pergerakan yang tidak maksimal. Dia tidak bisa menendang dengan sempurna. Serangan kakinya seharusnya mengarah ke perut gue, tapi malah ke titit gue yang posisinya lebih rendah dari perut gue. Kakinya tidak bisa membuka ke atas dengan lepas. Dengan mengorbankan harga diri gue waktu itu di depan orang banyak, gue berhasil mendapatkan kelemahannya. Lain kali kalau gue ditunjuk sparing sama dia lagi, gue akan pake celana dalem diluar supaya jadi tambah keren dan bisa tertawa lepas saat mengalahkannya. Betapa bodohnya dia yang mengumbar kelemahannya dan berhasil gue ketahui dari hasil analisa jenius sambil nahan ngilu.


Kejadian itu berhasil membuat gue pulang dengan jalan agak ngangkang sambil mendengarkan ketawa dari bokap.


Membina suatu hubungan bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Diperlukan suatu komitmen bersama supaya bisa saling mengerti. Perasaan saling mengerti memang terlihat sederhana tapi betapa kompleksnya saat kita mencoba mendalaminya. Adanya hal yang saling melengkapi merupakan hal yang menyadarkan kita kalau gue butuh dia dan dia pun butuh gue. Dimana pun kita berada, kita tetap akan saling membutuhkan. Rasa sabar yang terus tercipta itu merupakan pemanis dari hubungan jarak jauh ini. Ketika kita bertanya kenapa ruas-ruas jari ini berongga, saat itu pun kita harus menyadari kalau rongga itu adalah ruang yang disediakan Tuhan untuk diisi dengan ruas-ruas jari pasangan kita. Karena saat gue bisa menyatukan ruas-ruas jari ini dengan pacar gue, hanya senyuman dan hal-hal indah yang tercipta dan terbias dari kita.

2 komentar:

Saga Amelia mengatakan...

duh baca postingan ini...... (¬_¬")
jadi kangen pacar.. hahaha..

yang sabar yaa, aku jg LDR ko' dan pacarku jg gak cakep dan gak keren kyak km ko', jd gak usah sedih.. tapi dia penyabar, penyayang, setia, dapat dipercaya.. :p

aziz mengatakan...

kangen pacar itu harusnya selalu.. :p

iya nih sabar banget. sabar terpisah jarak ehehe..
wes wes.. aku keren ah. Cakep juga tau. ini kata pembantu-pembantu sebelah rumah lhoo..

Posting Komentar